Corona Diving Club Indonesia
Corona Diving Club Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Perawatan Regulator
Oleh: Surya Prihadi

Dear Divers,

Sering saya dengar orang bertanya, kapan dan berapa lama sekali regulator harus di service ?

Selama ini jawaban adalah : "rata-rata setahun sekali"

Saya mau bahas in-detail apa sih nama nya regulator maintenance, apa saja yang diganti dan apa saja alat bantu kerja yang harus sebuah workshop miliki untuk bisa lakukan maintenance/ overhaul dengan baik.

Saya memang suka hal electrical dan mechanical, jadi saya enjoy belajar mengenai regulator. Dalam beberapa tahun ini saya sudah beruntung dapat training routine dan langsung di Hong Kong, pusat nya Scubapro Asia Pacific. Di bekali ilmu oleh suhu-suhu di sana.

Selama ini saya juga dapat kesempatan untuk ikut technical workshop beberapa merek besar lain dan itu menambah know-how. Ini untungnya punya status jadi Instructor, sering dapat undangan gratis technical workshop yang kayak gini. Enggak usah bayar US$50 - $100 dapat coffe dan donut pula,sambil absorb ilmu.

Yah memang, basically semua regulator hampir mirip, tetapi detail dan embel-embel nya berbeda, untuk achieve performance dan spesifikasi tugas yang masing-masing produsen harapkan.

Saya mau ulas disini dan saya mau supaya para diver tau apa yang anda harus expect dari yang namanya service/overhaul. Diver juga patut tau bagaimana cara kerja regulator, serta fine tuning alat ini. Ini sebatas tau what to expect, bukan untuk mengerjakan sendiri service/overhaul tersebut yah.

Walaupun regulator tidak serumit mesin mobil, tetap basic training dari principle untuk teknisi yang bersangkutan harus dilakukan dan sering di update sebab manufaktur selalu mencoba material atau teknologi baru dalam harapan untuk buat a better product. Akan ada sertifikat training dari principle, bagi yang sudah dapat training ini.

Regulator set di bagi dua, 1st stage ( tahap pertama ) adalah yang terpasang di tangki. 2nd stage ( tahap 2 ) adalah yang kita gigit di mulut. 2 stage bisa berupa Primary ( utama ) yang kita selalu sedot...dot. ..dot dan juga alternate/back- up/octopus yang jadi cadangan.

Karena kita saat diving pakai tangki bertekanan 3,000 psi - 500 psi atau 200 bar sampai hampir kosong, kerja regulator yah untuk "regulate".. .meng-stabilkan tekanan udara.

Paru-paru manusia tidak bisa bernafas jika udara tidak minimal sama dengan ambient pressure. Di darat dan pada permukaan laut ( bukan di gunung ) kita alami 1 ATM
( atmospheric pressure atau 1BAR atau 14.7psi ). Ini adalah ambient pressure yang kita alami. Maka ambient pressure adalah pressure "terkini" dimana kita berada.

Jika diver mau iseng dan test, pakai snorkel dan sambung selang panjang...paling top 60 cm panjang tuh snorkel, diver sudah sulit nafas saat paru-paru dia 60cm di bawah air. Sebab di air pada kedalaman 60cm sudah bertekanan tambahan 0.88 psi terhadap ambient pressure, maka kita susah nafas. Jika mau nafas mudah, selang snorkel haruslah diberikan udara dengan alat bantu yang bisa menaikan tekanan...contoh kompressor udara, seperti Hookah diving atau helmet diving.

Jadi ceritanya, selain 1st stage meng-stabilkan tekanan tangki yang variable dari tangki penuh sampai hampir kosong, 1st stage juga menurunkan tekanan menjadi 130-160 psi saat masuk ke 2nd stage. Tekanan ini disebut Intermediate Pressure. Lalu si 2nd stage ada lagi mekanisme regulasi nya, dia akan buka katup sesuai sedotan kita di 2nd stage. Maka diving harus sedot dalam dan panjang, selain untuk mengurangi effek udara mati/bekas/basi ( dead air space ), durasi kita sedot panjang, artinya pembukaan katup udara itu juga mencukupi untuk udara masuk ke mulut dan ke paru-paru. Jika kita sedot dalam, membrane karet di 2nd stage akan turun, dorong tuas/lever dan buka katup udara lebih besar, alias pressure lebih tinggi. Jadi tanpa disadari, paru-paru akan adjust sendiri kebutuhan nafas si diver.

Jadi ceritanya, jika kita di 20 meter dan ini adalah 3 ATM atau 44.1 psi, regulator 2nd stage akan tanpa kita sadari akan kita sedot sampai tekanan udara di pernafasan kita sama dengan ambient pressure atau sedikit di atas ambient pressure. Coba di bayangkan, ban mobil ajah cuma kita pompa pada 32-34 psi. Jadi jika anda di ajari emergency ascend haruslah buka mulut dan buang nafas pelan-pelan, yah bayangkan jika tidak di buka jalur udara tersebut. 44.1 psi di paru-paru di kurangkan ambient pressure di permukaan laut 14.7 psi, maka sisah masih ada 29.4 psi di paru-paru kita yang akan mekar kayak kue lagi di oven dan buat emboli, jika kita tahan nafas. Wele wele, bengek-bengek tuh…lalu muntah darah. Kalau mau tau kekuatan tiup paru-paru kita saat kita tiup balon, paling top 1-2 psi doank.


Maka secara teoritis, regulator itu dengan intermediate pressure standard 130-160 psi, bisa di pakai sampai 8-10 ATM atau 80-100 meter air laut, dengan catatan air flow nya cukup. Intermediate pressure dengan maximum air flow volume tidak sama yah, catat itu.

Nah, pertanyaan nya sekarang kapan waktu yang tepat untuk service/overhaul regulator ?


Jawaban nya tidak mutlak per 1 tahun. Lihat dulu berapa jorok si diver.
Bisa juga 6 bulan sudah waktunya.

Jika diver sering dive, let say 150+ dive setahun, lalu jorok pakainya. Jorok itu seperti saya. Saat dive LOB atau ke pulau, dari Sabtu pakai alat, tidak ada di cuci, Senin baru di cuci atau 1 minggu baru cuci jika ikut LOB. Praktek barulah alat di cuci dalam beberapa hari, sebenarnya tidak separah joroknya seperti keadaan di bawah ini :



01. Jorok Abis....
Regulator di copot abis dive. Langsung digeletakin di deck, Dust Cap ( penutup ) tidak di tiup angin sampai kering dan malah tidak di pasang. Diver wara wiri disekitar kapal. Wetsuit basah, netes-netes dan ombak masuk ke kapal, lalu beberapa tetes air laut jatuh ke regulator pas di lubang udara 1st stage ( tempat tangki akan dipasang di regulator ). 2-3 tetes ajah deh. Ini namanya jorok abis, sebab udah tau dan di ajarin di saat awal belajar diving tapi emang males jaga barang.

02. Tidak sadar bahwa dia jorok....
Dikapal-kapal tertentu, tangki lama atau baru, di rebahkan. Lubang udara di katup tangki baru, memang biasanya ada selotip kertas. Ini tandanya tangki belum di pakai. Akan ada kala, diver pakai wetsuit basah atau ombak akan meneteskan air ke katup tangki, tanpa ada yang sadar. Air di lubang angin di katup tangki bisa terjebak minimal 5 tetes walaupun katup tertutup, sebab ada sekitar berapa centimeter lubang udara sebelum mekanisme penutup udara ( valve seat ) di katup tangki, yang bisa tampung air. Selotip kertas tidak jamin bisa menahan air masuk. Lalu diver pasang regulator, tidak buang angin pula dari tangki...yah air laut masuklah ke regulator. Maka nya, biasakan selalu "Cossss" dulu tangki sebelum pasang regulator, biarpun nampaknya kering kayak apa, buang dulu itu kemungkinan kotoran atau air laut yang terjebak di lubang angin katup tangki.

Ini kejadian yang paling sering bikin diver kecolongan. Semangkin sempit kapal nya, semangkin sering ini terjadi, sebab tangki pasti geletak di lantai dan sering dilewati diver yang masih basah-basah.

Bagaimana tau caranya regulator pernah terkonteminasi oleh air laut ? Gampang, lihat filter logam di lubang regulator. Ada yang dari tembaga, ada yang dari stainless. Lihat photo attachment.. ..."Filter Logam 1st Stage atau Sintered filter". Jika yang terbuat dari tembaga, lebih mudah di lihat konteminasi air laut nya, sebab warna kuning tembaga jadi kayak kehijau-hijauan. Ini oxsikasi typical tembaga. Jika filter yang stainless steel, agak repot lihatnya, tetapi putih-putih bekas garam dan butek-butek warna stainless nya jika secara seksama di lihat, bisalah nampak. Yah jilat pake lidah juga bisa sih.... ha ha ha.




Air laut walaupun hanya beberapa tetes dan jika masuk ke 1st stage, akan cukup buat "repot". Jika kemasukan air laut nya setelah last dive dan alat langsung di simpan, lebih parah lagi effeknya. Lalu lebih lama regulator ini disimpan tanpa di pakai, lebih besar lagi potensi regulator akan rusak/macet/ bocor. Jika diver mau "istirahatkan" regulator untuk jangka panjang, terbaik adalah setelah di service/overhaul.

Sekarang diver yang belum paham pasal regulator, patutnya sudah mulai lebih paham.
You got to know what you are sucking…ha ha ha ha.


Mari kita bahas workshop atau service center.
Kenapa saya mau bahas ini, sebab belum tentu perlengkapan special service tools dan alat ukur khusus dimiliki oleh service center yang bersangkutan. Ada orang yang sudah ikut technical workshop merek tertentu, lalu merasa sudah mahir, buka service center dengan alat kerja minim…bisa saja. Juga tidak berarti dive shop jual alat lalu berarti mereka “qualified” untuk lakukan service.

Saya berikan contoh....
Saya paham listrik. Tetapi tidak pernah mau perbaiki masaalah listrik dirumah sendiri kecuali kepepet, yang saya kerjakan malah di tempat lain, tepatnya di kapal atau di industri client...sebab ada doku nya coy....he he he. Untuk rumah sendiri, saya bayar orang lain. Karena saya paham cara troubleshooting listrik, jika ada gangguan di rumah saya dan "tukang listrik" datang cuma bawa Test Pen/Light dan tidak bawa Volt/Ohm meter, saya akan suruh dia pulang, tidak usah kerja. Ini artinya emang bener2 "tukang", bukan electrician. Jika ada diver yang punya electrical background, pasti paham maksud saya. Basic Special tools tidak boleh tidak ada.

Ada lagi contoh yang simple. Jika diver mengerti mekanikal, diver akan tau maksud saya ini. Jika saya minta mesin kapal client saya di perbaiki, dan mesin tersebut merek dari USA, lalu datanglah "montir" non-authorized dan di bawa kunci set millimeter ( metric ), tanpa bawa kunci set inchi ( imperial ), dan dia berkeras mau mulai bongkar sesuatu di mesin, saya akan tolak. Produk USA pakai mur/baut berukuran inchi, bukan millimeter seperti mesin Jepang atau Eropa. Jika yang menamakan dirinya "montir" atau teknisi dan tidak tau bedanya tools metric dan imperial...wele wele...mau jadi apa hasilnya ?? Yang jelas bisa dol itu mur/baut dimesin karena salah pakai kunci.

Jadi moral of the story adalah, pastikan dulu bahwa service center ada alat bantu kerja yang memadai dan sesuai. Make your money worth.

Regulator selam adalah life support equipment. Jika alat ini tulalit pada kedalaman, diver juga bisa tulalit. Memang secara mekanikal alat ini tidak lah rumit-rumit sangat, tetapi karena bentuknya compact, selalu ada saja special service tools yang diperlukan. Ini menjamin regulator tidak cacat saat di bongkar/pasang dan bagian-bagian tertentu dapat dikecangkan sesuai torsi yang di perlukan dan seal-seal tertentu dapat di bongkar pasang tanpa cacat. Jika ada diver yang punya mechanical background, pasti sadar betapa penting pengencangan berdasarkan nilai torque yang tepat untuk sesuatu alat yang kritis tugasnya dan memasang seal-seal yang sensitive dengan alignment tool yang memang untuk tugas tersebut.

Tergantung merek alat selam itu sendiri, ada merek yang special service tools banyak, ada yang sedikit.

Cara pembersihan. Karena pada umumnya 1st stage regulator terbuat dari brass dan di coating chrome ( kecuali yang Titanium ), jika pembersihan menggunakan cairan "keras" yang tidak di reccomended, maka coating chrome bisa rontok/rusak. Dulu saya sebelum paham secara benar & baik mengenai service regulator, sudah hobby bongkar pasang regulator dan suka pakai cuka. Malah ada orang yang suka pakai forstek
( spelling ?? ) atau sejenis. Cuka dapur masih generally acceptable, walaupun tidak semua merek endorse ini, tetapi strong chemical lain jangan deh. Chrome itu bukan hanya finishing yg mengkilat keren. Chrome menambah corossion resistance untuk regulator, dan chrome itu juga licin dan mengurangi friksi. Jika suatu areal gesek yang sudah luntur chrome nya, seal-seal yang dipakai lebih cepat baret/haus. Degreaser dengan sabun dan di bantu dengan alat ultra sonic cleaner, sangat ampuh untuk membersihkan kotoran di bagian regulator yang logam, apalagi di alur-alur udara yg kecil yang tidak terjamah sikat.

Jadi workshop yang baik, harus ada Ultra Sonic Cleaner. Jika alat Rp3 - 4 juta ajah tidak mau di adakan, rasanya service center ini belum optimal. Jika service center kelas distributor ( pusat ) tidak ada alat ini, artinya commitment to quality after salesnya lemah...jualan doank yang dipikirin.

Satu lagi hal yang perlu kita ketahui. Pola dagang setiap yang nama nya “Service Center” berbeda, walaupun secara peraturan manufacturer dari merek itu ada guideline baku.
Ada service center yang mau sepertinya service regulator jadi lebih murah, supaya customer lebih tertarik. Disini akan ada short cut.

Short cut yang paling umum adalah, Repair Kit/Annual Kit/Overhaul Kit atau satu set suku cadang yang memang HARUS di ganti, di jual secara terpisah atau satuan. Yang pasti dalam repair kit semua merek besar adalah, filter logam, high pressure seat dan semua o-ring yang dynamic. Disini artinya o-ring dynamic adalah o-ring yang saat bekerja o-ring itu tergesek-gesek karena ada pergerakan. Contoh yang gampang apa itu o-ring dynamic :

Bayangkan tangki selam. Yang diver sering lihat adalah o-ring tangki yang “kawin” dengan 1st stage regulator. Ini termasuk dynamic, sebab dilepas-dijepit- dilepas-dijepit fungsi tugasnya. Saat anda putar katup tangki untuk keluarkan udara, itu gagang putar ada o-ringnya juga di dalam, itu juga dynamic. Makanya o-ring yang paling sering rusak pertama adalah yang ke jepit tadi dan yang di gagang putar. O-ring untuk unit katup terpasang di leher tabung, itu static, tetapi tetap di rekomendasi diganti saat visual test di lakukan di tangki. Selama tangki tidak masuk air, o-ring leher ini sebenarnya awet kok. Tapi kalau sudah dibuka, harus di ganti sebab sudah gepeng banget biasanya.

Regulator yang paling umum di pasaran adalah tipe piston. Setiap anda bernafas, piston ini akan main sedikit ( turun naik ), maka ada o-ring yang kegesek-gesek dan juga di 1st stage, high pressure seat buka tutup selalu sesuai nafas. 2nd stage low pressure seat juga sama frequency buka tutupnya. Nah, kalau kita nafas per 6 detik ( ini umum ) maka per jam diving akan ada 600 kali gesekan di o-ring dan buka tutup di ke 2 pressure seat tersebut. Jika rata-rata 1 dive adalah 45 menit dan 100 dive regulator di service, maka ada 45,000 kali tindakan kerja kedua komponen yang saya sebut ini.

Kenapa saya mau bahas sampai detail begini, sebab regulator itu adalah seperti modern miracle of science dan when it quits on you…you die !!!

Pertama kita harus tau dulu, apa sih atau kayak apa sih tekanan 3,000 psi.

3,000 psi adalah 3,000 pound per square inch.
2.2 pound = 1 kg
1 inch = 2.54 cm

Jadi ini artinya, ada tekanan 1,363kg per area ( 2.54 cm x 2.54 cm ).. Gampang berhayal nya, saya letakan sebuah mobil Toyota Camry terbaru dan saya tumpuhkan beban seluruh Camry tersebut di atas coin Rp 500 yang besar ( silver ). Apa ini bukan beban yang dashyat ?

Nah, jangankan beban seberat ini di tumpuhkan ke coin, kalo satu roda nya Camry saja di letakan di jempol kaki kita, apa enggak teriak2 tuh diver ?

Pada 500 psi saja, tekanan per 2.54 cm x 2.54cm masih 227 kg. Yah kayak berat Bajaj kali yah. Sayang di majalah automotif tidak pernah di bahas berat Bajaj. He he he.

Yah ini lah tugas high pressure seat yang ukuran lebih kecil dari kuku kelingking dan umumnya terbuat dari plastic high performance. Setiap kita nafas, piston terangkat, lalu turun lagi dan jepit itu high pressure seat 1300+ kilogram sampai sekian ratus kilogram saat tangki sudah mulai kosong. Coba deh dibayangkan +-45,000 kali ini dilakukan selama 100 dive, apa enggak cacat tuh bahan lama-lama? Inilah saya bilang, miracle of modern science lah itu bahan high pressure seat dan design regulator.

Saya berikan perbandingan yang gampang. Keran air di wastafel dapur rumah. Paling top water pressure di rumah adalah 20-25 psi...ini udah pake jet pump Mbok. Sehari di pakai 30 kali deh, artinya 30 kali buka-tutup. Didalam keran air ada "seat" juga yang buat keran tidak bocor. Jika kita samakan dengan 45,000 kali kerja high pressure seat di regulator per 100 dive ( @45 menit dive ), maka itu keran patutnya tidak boleh bocor atau "meler" selama 45,000 dibagi 30 = 1,500 hari atau 4.1 tahun. Berapa banyak keran wastafel yang jika bukan merek bagus, dalam hitungan 2 tahun ajah udah "meler" atau dol. Coba dibayangkan jika tekanan 3,000 psi adalah beban tugas nya ?

Ada lagi contoh yang gampang dan cukup mirip beban kerjanya regulator. Di tangki selam juga ada high pressure seat nya. Jika kita lihat beban kerja tangki selam, inilah skenario kerja si high pressure seat di tangki :

Buka...saat mau di isi oleh kompressor. Tutup saat sudah penuh. Di buka/tutup saat buang angin sedikit saat mau di pasang ke regulator. Di buka saat mau diving, di tutup saat selesai diving. Di buka/tutup saat mau tiup kering dust cap regulator. Ini siklus tugas high pressure seat katup tangki selam tugas per 1 kali menyelam, cuma 4 kali buka/tutup.
Jika 45,000 kali siklus buka tutupnya, maka artinya ada 11,250 kali penyelaman. Anggap lah ada yang iseng sering Cas-Cos mainkan udara di tangki, kita anggap 10,000 kali penyelaman saja. Jika pun ini tangki ada nya di dive shop super sibuk entah di dive area mana gitu, paling top setahun di pakai 700 kali dive atau sehari 2x dive. Maka 14.2 tahun lah harusnya high pressure seat tangki selam baru boleh mulai bocor. Anda interview lah satu dunia selam, tidak akan ada tangki selam yang bisa tahan high pressure seatnya tanpa bocor lebih dari 3-5 tahun, apalagi 700 siklus dive per tahun nya. Keep on dreaming baby. Jadi, high pressure seat di regulator itu emang canggih kan.


Nah kenapa saya bilang design nya regulator itu juga miracle of modern science..

Coba bayangkan udara bertekanan 1,363 kg. Lalu dengan hanya sedot sedikit dimulut, itu udara bisa keluar, ter-regulasi dan kita terima enak nyaman…hanya dengan nilai kerja sedot pake mulut doank, tanpa bantuan alat listrik atau alat tambahan lain. Kita mau dongrak mobil ajah kudu puter-puter tuh dongkrak setengah mati..iya kan ? Inilah the magic of pnuematic system.

Lalu kita bahas lagi, soal policy “Service Center”.
Jika service center tidak lakukan penggantian komponen seperti high pressure seat dan low pressure seat, karena di anggap seat nya masih layak pakai……..bagaimana ini menurut anda ? Asal anda tau, semua publikasi technical manual semua merek besar, selalu dicantumkan high pressure seat, low pressure seat ( 2nd stage ), filter logam dan semua dynamic o-ring harus diganti saat service. So, bagaimana donk ?

Service center secara finansial tidak salah, dia tidak charge anda untuk komponen yang tidak di ganti. Tetapi secara standard dan etika kerja professional, ini tidak baik, sebab kita bicara life support equipment. High pressure seat paling mahal Rp150,000 an doank, kalo tidak di overcharge harganya. Lalu bodohnya, bongkar-pasang itu ada biaya, maka jika ada keperluan untuk ganti komponen yang kita enggan ganti pada awalnya dan sebelum waktu service berikutnya tiba2, eehhhh kena di bongkar lagi tuh regulator….. yang untung siapa…yang rugi siapa ?

Lalu saya bicara soal diver nya sendiri. Jika anda adalah diver yang merasa dan menekankan bahwa jika belum rusak komponen tersebut, maka tidak perlu diganti, alias tidak mengerti pentingnya preventive maitenance …anda juga telah berpartisipasi dalam mencari kesulitan sendiri.

Memang ceritanya regulator of today’s design semacam fooproof dalam safety, ceritanya jika ada kegagalan, lebih condong freeflow ketimbang mampet. Ini ceritanya. Jika saya lihat internal workingnya, jika anda apes dan orifice tertanam dalam di high pressure seat yang udah “ambles” dalam, bisa saja regulator mampet. O-ring di piston jika udah uzur dan putus lalu menahan pergerakan piston ,yah mampet lah udara.
Atau high pressure seat pecah berantakan, entah berapa ratus atau mungkin ribu psi yang akan mengalir ke 2nd stage anda. Ini bukan freeflow lagi namanya…tapi JEBOL. Jika anda lagi di kedalaman dan amit2 ada perlu decompression stop, yah tinggal pilih lah, mau kaki pedok kena DCS atau mau kelelep out of air…gara2 komponen dibawah Rp 200 ribu ? Regulator designer itu ber “cerita” skenario kerusakan dengan catatan service rutin di lakukan, bukan di cuekin.

Hukum demand dan supply berlaku dimana-mana.
You pay peanuts, you get a monkey…ini istilah populer.

Sudah budaya di Indonesia jika kita beli suku cadang mobil, ada asli, grade 2 atau grade 3…wah, ini yang repot. Supply lancar hanya bisa terjadi, jika ada demand. Jika semua pemilik kendaraan hanya mau pakai suku cadang asli, grade 2 dan grade 3 tidak akan laku, kecuali yang jual menipu dengan cara jual barang As-Pal.

Kalau alat listrik beli di Glodok, banyak bener yang mutunya enggak jelas atau imitasi juga. Cape deh. Maka nya sering terjadi kebakaran diperumahan, ada kabel yang jelas-jelas “bahaya” bukan cuma sub-standard tidak PLN approved, tapi DANGEROUS, tetap ajah ada yang beli dan maka ada yang jual….yang penting murah.

Lalu ada pemikiran, bagaimana menyelam dengan murah ? Ngebet mau menyelam itu sah2 saja. Tetapi menyelam adalah hobby bukan kebutuhan, kecuali anda memang kerjanya melibatkan penyelaman. Saya bicara disini recreational diver, bukan commercial. You don’t die when you don’t dive, but you may die jika equipment tidak di rawat baik. Ini sport yang equipment intensive dan yang anda pakai adalah life support equipment, bukan kayak hobby jogging. Harus ada biaya fix yang di anggarkan dan jangan di short-cut. Jika orang yang mau kerja dan tetap kelaparan karena memang unfortunate atau kena bencana alam, kita simpatik. Tetapi jika diver memaksakan mau diving walaupun secara finansial belum siap dan akan lakukan short-cut dalam perawatan alat, jangan deh…jangan sampe begitu.
Yah memang life is not fair, saya juga mau beli Mercy S600, tapi beli pelek ama ban nya ajah enggak mampu, gimana donk ?

Jadi coba ingat-ingat, terakhir kali anda service regulator, apakah semua komponen “Service Kit/OverHaul Kit/Annual Kit” diganti sesuai dengan set as per factory service manual atau acara cicil mencicil ?

Contoh komponen apa saja yang perlu di ganti tanpa bisa ditawar menawar :

Ini service manual regulator Apeks TX200 yang top. 3.3 MB data nya.

Lihat halaman 3, diatas 50 dive setahun, overhaul setiap tahun.
Lihat halaman 14, Table 4 – Torque Specification.
Lihat halaman 15, di situ yang Bold dan huruf biru adalah komponen yang harus di ganti.

http://www.diverclu b.ru/File/ Service_manual_ ATX200_1st.pdf


Untuk yang murah meriah, Aqua Lung Titan regulator.
1.15 MB datanya.
Lihat halaman 18, Table 4 – Torque Specification
Lihat halaman 22 untuk Overhaul Repair Kit

http://www.frogkick .dk/manuals/ aqualung/ Titan%201st% 20Stage%20Servic e%20Manual. pdf


Saya juga attached skematic Scubapro MK2 yang umum dan murah meriah. Lihat torque specification dan Annual Replacement Parts. Lihat saja pola penggantian komponen…semua merek sama. Mereka tau kok, apa saja yang HARUS di ganti.

Jika regulator sudah berumur, akan ada komponen lain diluar overhaul kit yang juga harus di ganti.



Kunci Torsi ( Torque Wrench )


Ini adalah alat untuk menyetel berapa kencang kita boleh kencangkan suatu alat atau mur/baut. Lihat attachment skematik "Scubapro MK2 " ( juga manual Aqua Lung Titan dan Apeks), item no 7 adalah titik paling kritis di 1st stage regulator. Ini namanya Yoke Retainer. Itu tekanan udara dari tangki yang 3,000 psi / 200 bar dan yang tahan alat ini, yah bayangkan lah beban tugas Yoke Retainer ini. Di skematik di tulis nilai pengencangan :

<30>
[ 226 ]

30 adalah nilai dalam Newton Meter ( metric )
226 adalah nilai dalam Lbs Inch ( imperial )

Tidak ada engineering team yang tidak akan berikan spesifikasi pengencangan torsi pada alat yang vital. Setiap logam ada kekuatan "shear strength" yang berbeda. Jika kurang kencang akan rawan kendor lalu lepas, terlampau dikencangkan juga tidak boleh. Brass ( kuningan ) adalah termasuk logam lembut/soft tetapi mudah di bubut/machine, jadi juga tidak boleh di kencangkan se-enak jidat. Maka, satu-satu cara adalah melakukan pengencangan akurat, adalah dengan kunci torsi. Ini kunci cuma Rp 2jt ( karena tipe kecil ) dan sudah merek beken : Elora dari Jerman. Jika service center tidak memiliki kunci ini, maka anda nilai sendiri saja lah. Apa anda kira Torque table di buat asal buat, apa si engineer kagak ada kerjaan ? Saya attached photo Torque Wrench analog Elora seperti apa bentuknya.


Jika ada teknisi beralasan Torque Wrench tidak perlu dan dia bisa meraba-raba karena sudah biasa, yah mungkin dia saudara Ki Gendeng Pamungkas... .he he he...pakai 6th sense atau memang tidak pernah dapat pendidikan engineering yang benar dan baik. Sudah never had the basic know-how tapi tidak mau improve pula kalau di ajarin cara yang benar…ini namanya bandel.


Intermediate Pressure, Gauge
Seperti saya sebutkan pada awal, bahwa 1st stage itu menurunkan pressure dari tangki ke 2nd stage, maka akan perlu alat untuk membaca, berapa tekanan Intermediate ini. Tanpa alat ini dukun maha sakti pun tidak akan tau berapa pressure yang tercapai. Ini alat murah meriah. Cuma meter/gauge tekanan udara dari 0-300 psi. Tergantung budget, ada yang ultra presisi, ada yang lumayan presisi. Jika ini pressure gauge tidak ada di workshop, wah ini bukan keterlaluan lagi, ini gila dan tidak masuk akal. Praktek sembrono namanya.

Semua meter/gauge tipe capiler, biasanya akurasinya terbaik pada bacaan 50% dari maximum value, maka 0-300 psi adalah spesifikasi meter yang tepat.


CHRISTO LUBE
Ini pelumas tipe baru yang Nitrox compatible dan jauh lebih baik dari silicone grease.
Lihat kedua manual Apeks dan Aqua Lung, mereka juga specify pelumas ini. Scubapro juga sarankan pelumas ini. Rasanya semua merek regulator sudah cantumkan pelumas ini deh. Ini pelumas mahal sekali. Per gram nya bisa 10 kali lipat lebih dari silicone grease. Memang material improvement selalu di lakukan demi reliability dan longevity. Kalau Christo Lube adalah top-of-the-line Mobil 1 Synthetic engine oil, silicone grease bagaikan Mediteran 40 Pertamina jaman dulu yang rating API nya masih rendah. Lihat saja, Service Center langganan anda pakai apa pelumas nya ? Jika mereka tidak tau pun apa itu nama nya Christo Lube, maka artinya tidak pernah dapat updated training, alias jadul. Ini pelumas bukan baru, udah lumayan lama.


MAGNEHELIC VACUUM / PRESSURE GAUGE


Ini alat final yang diperlukan untuk setel cracking pressure 2nd stage alias berapa berat inhale ( nafas ). Beban kerja exhale ( buang nafas ) di 2nd stage juga bisa dideteksi alat ini, makanya angka ENOL ada di tengah.

Ini alat penting, Rp4 - 5 juta pasti dapat lah, tergantung beli dimana.

Tanpa alat ini fine tuning nyaman nya bernafas di 2nd stage tidak akan bisa tercapai sempurna. Memang ini adalah alat tuning untuk teknisi yang serius dan mencari kesempurnaan kerja. Jika anda mau regulator anda di service, teknisi macam apa yang anda akan pilih ? Yang asal regulator bisa nyedot…. atau yang mau cari kerja sempurna ? Its ur dompet, its ur call.

Persiapan tools khusus bongkar-pasang, alat kalibrasi dan alat penyetelan yang lengkap haruslah jadi standard baku semua wadah yang memanggil diri nya "Authorized Service Center".

Jika si diver sudah paham pentingnya regulator maintenance setelah membaca ini, tetapi merasa "so what gitu loh"... toh... so far so good tak pernah ada trouble walaupun tidak di overhaul rutin, itu hak si diver. Push your luck terus ajah, nanti jika udah run out of it....yah teman-teman bisa di undang pesta kuaci.

Jika diver menilai sebuah workshop tanpa special service tools dan adjustment tools tidak masaalah, ini juga hak si diver.

Sebagai senior dan dive industry participant, saya akan salah jika tidak berbagi informasi, apalagi urusan nya ke safety.


Saya tidak mau bahas mengenai balanced 1st stage, balanced 2nd stage, diaghram type 1st stage, enviromentally sealed 1st stage, analog depth gauge, digital depth gauge, analog pressure gauge dan digital pressure gauge. Saya hanya bahas yang simple dan paling umum saja, yaitu piston type 1st stage. Second stage saya tidak bahas, sebab otomatis saat di service/overhaul regulator set, 2nd stage juga akan kebagian “jatah” perhatian. Nanti jadi kepajangan tulisan ini, padahal sudah cukup panjang nih.

Ada beberapa bench test equipment yang saya belum sebut disini, sebab pengunaannya lebih ke performance evaluation yang cocok untuk R & D atau tech diver yang pakai regulator bener-bener beyond recreational limit atau untuk experimental. Apa yang saya tulis adalah basic working/testing equipment saja dan sudah mencukupi untuk sebuah service center.

Happy sucking ur regulator…people.

SPP