Corona Diving Club Indonesia
Corona Diving Club Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Reverse Block dan Barotrauma Telinga Dalam
 

Jika telinga terasa penuh seperti ada air tertinggal dan setelah mencoba ramuan dari pak Wid atau cairan dari Kanada atau resep yang lainnya termasuk Hidrogen peroksida (H2O) dan gejala hilang berarti masalah selesai.

Tapi jika setelah berhari-hari (lebih dari 3 hari) gejala masih menetap, telinga tetap terasa penuh apalagi disertai dengan berkurangnya pendengaran dan juga vertigo/ kepala pening, kunjungan ke dokter sangat dianjurkan.

Selama ini diver umumnya hanya diperkenalkan pada barotrauma telinga luar (akibat pemakaian sumbat telinga, hood dan kotoran kuping yang terlalu besar……ukurannya), barotrauma telinga tengah (robek atau pecahnya gendang telinga) dan reverse block (sumbatan saat naik). Masih ada satu yang perlu diwaspadai…….barotrauma telinga dalam.

Sumbatan saat naik (Reverse Block)

Jika saat naik mengalami hal ini, tekanan udara berlebih di rongga telinga tengah tidak bisa lancar keluar lewat saluran eustachius menurut literatur penanggulangannya mudah saja. Perlahan/ kurangi kecepatan naik……berhenti……atau coba turun lagi sedikit…….dan biarkan udara yang terperangkap keluar. Diver yang sebelum menyelam minum obat-obatan anti flu dan sebangsanya…..kemungkinan lebih besar terkena reverse block……karena khasiat obatnya sudah berkurang saat naik. Jika yang tersumbat satu telinga coba miringkan telinga tersebut kearah atas (udara maunya kan naik keatas). Hanya satu telinga yang tersumbat juga bisa mempengaruhi keseimbangan….akibatnya bisa vertigo dan sebangsanya.

Free dive tentunya agak sulit jika harus naik pelan-pelan bahkan turun lagi (sudah keburu kepengen tarik napas baru). Jadi harus lebih hati-hati, jangan free dive jika lagi flu dan sebangsanya.

Barotrauma telinga dalam

Telinga bagian dalam juga sangat peka terhadap perubahan tekanan. Letaknya berdampingan dengan rongga telinga tengah (yang disisi lainnya ada gendang telinga). Rongga telinga dalam ini berisi cairan, bukan udara. Ada 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dan telinga bagian dalam. Tulang ini berfungsi meneruskan gelombang suara.

Tulang ketiga menempel di bagian yang disebut oval window/ tingkap lonjong (tolong lihat gambar). Dibagian bawahnya ada round window (tingkap bundar?). Dalam kedokteran penyelaman lalu ada istilah round window rupture.

Ekwalisasi dengan tehnik Valsava (Valsava manoeuvre……menutup hidung lalu menghembus kedalam masker) harus dilakukan hati-hati, jangan terlalu keras menghembus atau bahkan menghembus sekeras-kerasnya. Ini berbahaya! Hembusan terlalu keras, berarti akan banyak….dan mendadak…. udara masuk ke rongga telinga tengah, akan menekan ke dalam bagian oval window….cairan didalam rongga telinga tengah akan tertekan juga (lihat panah putih di gambar)……dibagian bawah tekanan akan diderita oleh…..round window! Bisa berakibat round window terluka bahkan robek dan cairan bisa masuk ke rongga telinga tengah.




 

Gejala awal round window rupture adalah telinga terasa penuh, telinga terasa tertekan, bisa berlanjut dengan vertigo, pening dan berkurangnya pendengaran! Jika beberapa hari setelah menyelam gejala tidak hilang, tentunya harus konsultasi dengan dokter.

Gejala seperti round window rupture juga bisa terjadi pada reverse block, karena saat reverse block tekanan udara di telinga tengah juga tinggi……dan akan menekan oval window.
Dalam skin dive /free dive umumnya ekwalisasi yang dilakukan cenderung menghembus keras-keras dan terburu-buru.

Ini karena waktu selam dan persediaan udara di paru-paru terbatas. Juga penyelam ingin segera sampai di kedalaman, jadi berbeda dengan penyelam scuba yang bisa pelan-pelan turun sambil ekwalisasi “pelan-pelan” juga ( gaya putri Solo).

Naikpun demikian, ingin segera sampai di permukaan untuk…..tarik napas. Jadi kemungkinan mendapat gangguan telinga memang lebih besar saat free dive.