Reverse
Block dan Barotrauma Telinga Dalam
Jika telinga
terasa penuh seperti ada air tertinggal dan setelah
mencoba ramuan dari pak Wid atau cairan dari Kanada atau
resep yang lainnya termasuk Hidrogen peroksida (H2O) dan
gejala hilang berarti masalah selesai.
Tapi jika setelah berhari-hari (lebih dari 3 hari) gejala
masih menetap, telinga tetap terasa penuh apalagi disertai
dengan berkurangnya pendengaran dan juga vertigo/ kepala
pening, kunjungan ke dokter sangat dianjurkan.
Selama ini diver umumnya hanya diperkenalkan pada
barotrauma telinga luar (akibat pemakaian sumbat telinga,
hood dan kotoran kuping yang terlalu besar……ukurannya),
barotrauma telinga tengah (robek atau pecahnya gendang
telinga) dan reverse block (sumbatan saat naik). Masih ada
satu yang perlu diwaspadai…….barotrauma telinga dalam.
Sumbatan saat naik (Reverse Block)
Jika saat naik mengalami hal ini, tekanan udara
berlebih di rongga telinga tengah tidak bisa lancar keluar
lewat saluran eustachius menurut literatur
penanggulangannya mudah saja. Perlahan/ kurangi kecepatan
naik……berhenti……atau coba turun lagi sedikit…….dan biarkan
udara yang terperangkap keluar. Diver yang sebelum
menyelam minum obat-obatan anti flu dan
sebangsanya…..kemungkinan lebih besar terkena reverse
block……karena khasiat obatnya sudah berkurang saat naik.
Jika yang tersumbat satu telinga coba miringkan telinga
tersebut kearah atas (udara maunya kan naik keatas). Hanya
satu telinga yang tersumbat juga bisa mempengaruhi
keseimbangan….akibatnya bisa vertigo dan sebangsanya.
Free dive tentunya agak sulit jika harus naik pelan-pelan
bahkan turun lagi (sudah keburu kepengen tarik napas
baru). Jadi harus lebih hati-hati, jangan free dive jika
lagi flu dan sebangsanya.
Barotrauma telinga dalam
Telinga bagian dalam juga sangat peka terhadap
perubahan tekanan. Letaknya berdampingan dengan rongga
telinga tengah (yang disisi lainnya ada gendang telinga).
Rongga telinga dalam ini berisi cairan, bukan udara. Ada 3
tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dan
telinga bagian dalam. Tulang ini berfungsi meneruskan
gelombang suara.
Tulang ketiga menempel di bagian yang disebut oval window/
tingkap lonjong (tolong lihat gambar). Dibagian bawahnya
ada round window (tingkap bundar?). Dalam kedokteran
penyelaman lalu ada istilah round window rupture.
Ekwalisasi dengan tehnik Valsava (Valsava
manoeuvre……menutup hidung lalu menghembus kedalam masker)
harus dilakukan hati-hati, jangan terlalu keras menghembus
atau bahkan menghembus sekeras-kerasnya. Ini berbahaya!
Hembusan terlalu keras, berarti akan banyak….dan
mendadak…. udara masuk ke rongga telinga tengah, akan
menekan ke dalam bagian oval window….cairan didalam rongga
telinga tengah akan tertekan juga (lihat panah putih di
gambar)……dibagian bawah tekanan akan diderita oleh…..round
window! Bisa berakibat round window terluka bahkan robek
dan cairan bisa masuk ke rongga telinga tengah.

Gejala awal
round window rupture adalah telinga terasa penuh, telinga
terasa tertekan, bisa berlanjut dengan vertigo, pening dan
berkurangnya pendengaran! Jika beberapa hari setelah
menyelam gejala tidak hilang, tentunya harus konsultasi
dengan dokter.
Gejala seperti round window rupture juga bisa terjadi pada
reverse block, karena saat reverse block tekanan udara di
telinga tengah juga tinggi……dan akan menekan oval window.
Dalam skin dive /free dive umumnya ekwalisasi yang
dilakukan cenderung menghembus keras-keras dan
terburu-buru.
Ini karena waktu selam dan persediaan udara di paru-paru
terbatas. Juga penyelam ingin segera sampai di kedalaman,
jadi berbeda dengan penyelam scuba yang bisa pelan-pelan
turun sambil ekwalisasi “pelan-pelan” juga ( gaya putri
Solo).
Naikpun demikian, ingin segera sampai di permukaan
untuk…..tarik napas. Jadi kemungkinan mendapat gangguan
telinga memang lebih besar saat free dive.