Corona Diving Club Indonesia
Corona Diving Club Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Berbagai "Gaya" Safety Stop
Oleh: hananta tedjapawitra

Berhenti di kedalaman antara 3 sampai 6 m selama beberapa menit saat naik setelah penyelaman, biasa dinyatakan dalam dua kata…..SAFETY STOP, sudah jadi standard semua penyelam saat ini. Begitu pentingnya anggapan penyelam mengenai “ritual berhenti” ini. Sampai-sampai jika lupa atau tidak sempurna melakukannya penyelam merasa kemungkinan terkena dekompresi sudah dekat.

Melakukan safety stop yang baik, benar dan aman ternyata tidak sesederhana yang diduga. Berbagai macam medan penyelaman memerlukan berbagai tehnik safety stop yang sesuai pula. Ada berapa variasi safety stop? Mari kita kupas.

Berpatokan pada kontur kedalaman. Ini tehnik yang paling umum diikuti. Penyelam berada dekat dengan karang atau kontur kedalaman ditempat dangkal. Jika diperlukan penyelam bisa safety stop sambil berpegangan pada karang (carilah karang mati) atau lainnya. Boleh dibilang cara ini yang paling aman dan mudah.

Foto 1. Para penyelam sedang safety stop sambil mengerumuni karang bawah air berbentuk bukit kecil di lokasi dangkal Crystal Bay , Nusa Penida-Bali. Bukit karang inilah yang jadi “terminal” safety stop hampir seluruh penyelam setelah pencarian atau perjumpaan dengan Mola-mola.



Berpatokan pada tali jangkar atau tali lainnya. Pada saat naik penyelam dapat berpatokan pada tali jangkar kapal atau tali mooring buoy tempat tambatan kapal. Memegang talinya boleh, tapi jangan dijadikan tempat “bergantung” (apalagi ditarik kebawah). Hati-hati didaerah berombak/ alun, penyelam dapat ikut “tertarik” keatas dan kebawah.

Foto 2. Dua penyelam, tua dan muda sedang safety stop sambil berpegangan tali mooring buoy tambatan kapal dilokasi Ped, Nusa Penida-Bali
 


Safety stop di tengah-tengah air. Penyelam berada bebas di tengah-tengah air sambil melakukan safety stop. Hal ini dilakukan karena penyelam muncul jauh dari pantai atau memang safety stop tidak bisa dilakukan dekat pantai, misalnya di lokasi berdinding karang curam dengan ombak pecah ke dinding karang. Tehnik ini membutuhkan pengendalian daya apung yang prima. Penyelam mempertahankan kedalaman yang aman sambil memonitor dive comp atau pengukur kedalamannya. Didaerah tanpa arus tehnik ini aman dilaksanakan.

Foto 3. Seorang penyelam sedang safety stop di tengah air. Sambil mempertahankan daya apung netral, memonitor kedalaman dengan divecomp nya. Lokasi SD Point, Nusa Penida.
 


Pelampung permukaan (SMB) untuk safety stop. Di daerah berarus atau di perairan terbuka, tehnik safety stop di tengah-tengah air membutuhkan alat bantu agar penyelam tetap ada dalam situasi aman dan dapat dimonitor terus keberadaannya dari permukaan atau kapal. Yang paling umum dipakai sebagai alat bantu adalah pelampung tanda misalnya “sosis selam” digabung dengan gulungan tali (reel line) kecil. Mendekati kedalaman safety stop penyelam akan mengisi sosisnya (sebagian saja, ingat hukum Boyle) dengan udara. Tergantung jenis sosisnya, bisa dengan meniup atau mengisinya lewat regulator oktopus. Kemudian sosis dilepas kepermukaan sambil tali dari gulungan dilepas juga. penyelam kemudian “bergantung” pada SMB (Surface Marker Buoy) ini pada kedalaman safety stop. Alat ini akan mempermudah pelaksanaan safety stop di laut terbuka. Dan secara psikologis akan membuat penyelam merasa “aman” karena keberadaannya selama safety stop berlangsung (walaupun terbawa arus) tetap terpantau dari permukaan. Pemakaian SMB ini butuh latihan dulu (kalau perlu coba dikolam), supaya jangan sampai penyelam terjerat tali atau tertarik keatas saat menggunakannya.

Sebagai alternatif sosis selam, bisa juga dipakai pelampung tanda yang bisa diaktifkan dibawah air dengan tabung kecil CO2, atau yang sedang beraktifitas dengan lift bag juga bisa memanfaatkan alat ini (lift bag berukuran kecil). Gulungan tali cukup dipakai yang kecil saja biasa disebut “gap reel”, dengan panjang tali 15 – 20 m an. Idealnya setiap penyelam atau satu buddy team membawa alat ini. Alat ini bukan untuk alat bergantung, apalagi beberapa penyelam sekaligus bergantung padanya (daya apungnya terbatas). Jadi kemampuan daya apung netral tetap harus prima.

Foto 4. Dive Master memakai SMB untuk safety stop di perairan terbuka, dan beberapa penyelam lain ikut ber safety stop disekelilingnya. Lokasi Manta Point, Nusa Penida.



Safety stop dilakukan dengan membaca ketinggian pengukur kedalaman atau divecomp diketinggian dada penyelam. Di lokasi paru-paru ini pelepasan gas Nitrogen berlangsung. Dan agar gas Nitrogen lebih banyak keluar, sebaiknya saat safety stop penyelam tidak “mengirit-irit” persediaan udara. Secara teori lebih banyak napas yang keluar masuk saat safety stop, akan lebih banyak gas nitrogen yang terbuang keluar.

Jon line. Saat safety stop memanfaatkan tali jangkar kapal atau tali mooring buoy, bisa juga dipakai Jon line. Seutas tali sepanjang 1 – 2 m dengan bagian ujung yang mirip penjepit rambut (lihat foto 7). Penjepit ini digunakan untuk menjepit tali jangkar, sisi tali yang lain dipegang penyelam. Akibat kapal yang turun naik bisa dieliminir sehingga penyelam tidak ikut naik turun. Juga jika beberapa penyelam sekaligus berpegang pada tali jangkar di kedalaman safety stop yang sama tentunya akan saling berebut tempat. Jon line akan membuat lokasi safety stop jadi lebih leluasa.


Jon line


Safety stop sambil berpegang pada SMB, lazim dilakukan di dive site seperti Komodo, Alor dan Nusa Penida, lokasi yang berarus.
 



SMB berupa sosis selam digabung
dengan gulungan tali

 


Lift bag dan pelampung tanda yang diaktifkan dengan
gas CO2 juga dapat dipakai.


Jangan lupa safety stop……..diakhir penyelaman!



CDC #011