Solo Diving
Oleh: Surya Prihadi
Guys,
Menurut sy sih solo diving atau buddy diving ada untung
dan ada rugi nya. Memang sy nyaris selalu solo diving,
tetapi team berserakan radius 25-100 meter. Kadang2
benar2 sy solo karena survey lokasi, jadi sengaja hanyut
jauh-jauh up to 400 meter dari rekan terdekat.
Kalo menurut pandangan pribadi sy dan bukan definisi
dari agency manapun, solo diving adalah diver yang tidak
bisa melihat rekan team nya ( bukan cuma buddy, tetapi
rekan diver lain nya ) atau jaraknya lebih jauh dari 30
detik jika finning kuat. Maksudnya jika kita ada
problem, yah kayak harus sengsara sendiri gitu. True
solo yah jika emang yang diving kita sendiri doank, yang
lain di kapal atau emang trip ini cuma 1 diver. Jika
saya bilang rekan atau team dalam tulisan ini, artinya
diving satu grup dan saling kenal semua dan saling tau
kemampuan masing2.
Ada beberapa hal dalam fikiran saya :
Ber buddy dengan orang yang punya potensi membahayakan
kita, sebenarnya apes banget kita nya sebab bisa double
trouble.
Jika sejoli buddy punya skill dan jam terbang sama, juga
belum tentu pairing ini menguntungkan, dari segi safety
jika satu ada masaalah dan yang satu lagi tidak ada
skill rescue nya....bisa juga double trouble.
Jika ber buddy tapi lain interest dan aktifitas dan
masing-masing kagak mau ngalah, repot juga.
Jadi gimana donk ? Kompromi lah.
Jaman sekarang dengan ada dive computer dengan air
intergration yang bisa hitung sisah udara sampai batas
cadangan aman, kehabisan udara saat diving itu sudah
sangat keterlaluan....artinya itu diver emang demen cari
susah mepet mepetin batas minimal udara. Diver yang
kayak ginian yang akan buat buddy nya susah. Terbentuk
nanti pola fikir, ahh ada buddy ini, ntar gw bisa netek
udara...asik !!! Jauhkan jika tidak bisa di nasehatkan
buddy yang punya attitude kayak gini.
Jika regulator selam rusak dan ampe macet, ini juga
keterlaluan. ..artinya itu barang tidak pernah di rawat
atau beli produk yang ngak jelas. Freeflow dikit ok lah,
kalo macet sih saya bingung cara rawatan nya. Teknologi
regulator udah maju saat ini sampai2 jika ada acara
macet di 1st stage yang terawat baik, ini baru namanya
super sial. Nah kalo punya buddy yang suka taking risk
kayak gini alias jorok perawatan, repot juga kan.
Yang umum diver bimbang saat solo dive adalah, kehabisan
udara karena salah hitung. Tak pakai komputer pun ini
sebenarnya gampang di hitungnya. Jika anda pakai psi
untuk pressure dan feet untuk kedalaman, formula yang
sudah proven dan gampang di ingat bagi sy adalah :
Jika anda di 150 feet, maka 1,500 psi sudah harus mulai
ascend. Kita bicara 150 feet maximum allowed depth deh
dan ini non deco dive. Jika anda di 100 feet, sisah
1,000 psi mulai lah ascend. Usahakan 700 psi adalah
limit minimal udara harus sisah di tangki saat kita
sedang di kedalaman tidak lebih dari 33 feet....jadi pas
safety stop dan bla bla bla, sisah udara 500 psi di
permukaan. Kalau sekarang pake BAR dan METER agak repot
cari format yang gampang di ingat. Kalo sy bisa berfikir
dalam BAR/PSI dan FEET/METER sebab dulu tidak umum
gauges BAR/ METER di Indonesia. Lama2 malah yang
FEET/PSI hilang dari pasaran Indo.
Jika anda pakai BAR/METER, bisa coba format ini. 125 BAR
sudah mulai naik dari kedalaman dan main dangkal di 20
meter.
Saat 75 BAR anda sudah main di 10 meter dan tidak lebih
dalam. Naik di kapal dengan minimal 40 BAR, sudah
termasuk safety stop dan ascent time. Ini konservatif
deh.
Jika ber buddy untuk mencegah kecelakaan karena
narcosis, ini agak repot sebab ini bukan mutlak soal jam
terbang. Ini soal umur, tingkat keletihan, kesehatan,
medan selam, visibility, kekuatan arus dan banyak faktor
lain. Jadi ini tidak bisa disebut bahwa A selalu akan
lebih tahan narcosis dari B karena lebih muda 10 tahun
dan sudah logged sekian ratus dive lebih banyak.
Ntar dulu, kalo A bekas dugem kemaren dan banyak minum
alkohol lalu kurang tidur...bisa lain cerita nya. Jauhi
lah buddy yang model kayak gini. Mau diving harus ada
disiplin 36-48 jam minimal bebas alkohol atau any
substance yang bisa buat seseorang teler. Di darat boleh
party goer, di bawah air jaga disiplin. Maka nya pesta
di darat nya rabu ajah..., weekend di laut...mantap.
Toleransi terhadap narcosis bisa di latih, tetapi
platform tubuh kita harus sedang fit, kalo lagi loyo
lain cerita. Jika kita asumsi kan semua variable sama
rata, technically sejoli yang sama secara fisik dan
training, kalau satu narcosis, yang satu lagi juga
sepatutnya sudah juga mulai narcosis. Jadi yang sedang
geblex coba bantu yang sedang gelo, apa jadi nya ?
Case study, sepasang diver ( pacar ) kecelekaan di Udang
Oil Rig Anambas di Natuna. Ini rig emang dalam, sekitar
100 meter, sy sudah turun di sana. Air bening dah, viz
50 meter ke bawah gampang. Ini contoh klasik satu tolong
satu malah celaka dua-dua nya. Kedua jasad nya harus di
recover pakai commercial diver di 100 meter. Jika yang
sudah dapat training rescue, masih ingat cara tangani a
person in distress ? Nah bayangkan jika si diver yang
sedang panik jambret regulator anda sambil kepret masker
anda ampe copot...apa enak kalo lagi di 40 meter ? Jadi
tidak mutlak punya buddy itu akan selalu lebih aman
daripada solo. Text book perfect tidak sama dengan
kondisi aktual yang ada urusan apes nya.
Narcosis bukan hanya resiko untuk diver yang suka main
+40 meter. Kita lihat science di belakang narcosis dulu.
Nitrogen lah yang buat kita narcosis. Up to 78% adalah
jumlah nitrogen di udara kita di mother earth, jadi yang
di tabung selam juga sama. Tolong diver jangan panggil
tabung selam sebagai tabung oksigen...tabung oksigen
adalah tabung 100% oxygen. Kita diving pakai udara
biasa, cuma udara di tekan 200 BAR atau 3,000 psi,
kecuali kita bicara nitrox atau tri-mix. Buka buku
pendidikan, kan ada semua.
Nah, diver saat bernafas via regulator, seperti yang ada
di buku pendidikan .... setiap kedalaman 10 meter atau
nambah 1 ATM ( atmosphere ) , volume udara yang kita
perlu untuk bernafas juga akan bertambah banyak.
Gampangnya adalah lebih boros sekian kali lipat
dibanding nafas di permukaan, sesuai dengan berapa ATM (
kedalaman ) kita. Jadi kedalaman 40 meter yang 5 ATM, 5x
lipat lah konsumsi udara anda di banding di permukaan.
Jadi 5x lipat nitrogen yang juga ikut terkonsumsi. Kalo
gampangnya, minum bir 1 kaleng di dermaga, di kedalaman
40 meter teler nya sama dengan 5 kaleng. Selalu
kedalaman yang jadi patokan sebab nitrogen itu bereffek
narkotika alias menelerkan jika pada ATM tinggi. Sayang
ini jadi persepsi umum dan di buku training juga cuma
ini yang sering di tekankan. Satu faktor lagi yang harus
di ingat adalah : breathing rate. Pada kondisi santai
dengan kondisi kerja berat seperti lawan arus,
kedinginan dan segala sesuatu yang mengharuskan badan
diver kerja extra keras, akan memerlukan udara yang
lebih banyak....artinya apa ? Yah itu nitrogen juga ikut
banyak terserap. Jadi bukan mutlak kedalaman yang buat
narkosis, kerja keras di bawah air ( contoh mencoba
membebaskan jangkar yang tersangkut ) karena akhirnya
nitrogen intake jadi juga bertambah... bisa buat orang
narcosis di kedalaman dangkal, contoh 20 meter. Saya
pernah narkosis di 20 meter, emang saat itu beban kerja
sangat2 berlebihan. Jadi ber buddy dengan diver yang
biasa nya santai dan anda suka nya jantung berpacu
melulu melawan arus...kasian tuh buddy, kecuali anda
yang ikutin dia nyantai, jangan sebaliknya.
Jeleknya lagi, nitrogen intake lah yang buat
decompression sickness. Artinya orang yang ngos-ngos san
di air dangkal 20 meter tidak mutlak lebih miskin
nitrogen loading dari diver yang di 30 meter tapi sedang
super santai. Saat kerja keras, jantung berpacu kuat,
oksigen dan nitrogen berlebihan di absorb di darah dalam
proses ini...yah setiap kali jantung berdetak. Jantung
kan dapur pacu nya kita, oksigen adalah bahan bakarnya,
plus pagi2 makan bakmi supplement nya...kik kik
kik....nitrogen adalah gas yang tak terpakai tapi buat
reseh ....maka nya yang menyelam dalam pakai Helium
untuk gantikan nitrogen dan bisa ngobrol suaranya kayak
Donald Bebek...kik kik kik.
Nah lahir lah istilah umum "know your limits". Dalam
pengertian saya pedoman ini adalah know-how anda sebagai
diver terhadap fungsi tubuh anda saat dalam penyelaman,
response tubuh anda terhadap segala beban tugas di air
dan segala sesuatu yang akan membuat anda tidak dalam
kondisi nyaman prima...alias jantung tidak di kasih
berdetak merdu pelahan. Takut ajah orang jantung nya
dek-dek kan, maka nya takut itu fatal di bawah air sebab
bukan stress sikologis saja yang terjadi, tetapi
biologis anda juga kerja keras. Coba deh kalo abis
ketakutan banget2 di darat. Udah dek dek kan lalu kaki
lemas, apa kagak repot kondisi tubuh kayak gitu ? Di
darat tidak ada narcosis, di kedalaman ada...maka ada
satu element bahaya tambahan lagi.
Jadi kalau ada yang bertanya SOLO diving boleh kah ?
Silahkan saja asal, pahami lah semua yang saya sebut di
atas ini dan jangan takut kalau sendirian... ..santai
tenang di bawah air sangat sangat penting. Apapun yang
anda lakukan di dalam air kita tidak bisa ikut campur
kok, kecuali pergi trip sama club, atau ada Dive Leader
atau dive center dan sudah ada game rules nya yang harus
di ikuti.
Ke untungan bagi sy yang tukang nembak adalah, secara
tidak sengaja sy melatih diri untuk jantung di pacu di
ambang batas maksimal pada setiap dive. Selalu cari
kepala arus, sebab ikan emang main disana. Selalu mau
nya main di 50 meter karena tuna yang gede emang main
nya dalam. Selalu tug of war tarik-tarikan ama ikan.
Selalu cape narik karet berbeban 40kg dan 6 karet pula.
Untung pake computer yang ada sensor detak jantung dan
konsumsi udara, jadi lebih paham akan apa effek jelek
jantung memompa super kencang terhadap gejala narcosis
dan "kenyamanan" sikologis sy saat di kedalaman dan
sedang solo. 160 detak per menit sering terekam saat
beban kerja tinggi dan alarm konsumsi udara +80% terekam
juga. Lagi nyantai di kapal cuma 85 detak per menit.
Jika 180 detak per menit...pusing euuuyyyy dan mata bisa
mulai berkunang-kunang. Maklum, kalau formula detak
jantung untuk umur saya yang 42 tahun, memang 180bpm
udah red line. Lain halnya Koko Humprey kita, breathing
rate nya sopan bener dalam log dia yang sy download,
sekitar 118 dive dari Nov 2007 sampai April 2009
....sangat santai. Two thumbs up.
Jaga-jaga limit lah, mau solo kek mau ber buddy kek,
know your limit dulu.
Satu hal yang sangat penting jika anda ber buddy.
Pelajari dan pahami alat yang buddy anda pakai.
Jika problem nya adalah perlu octopus dia dan anda tidak
paham konfigurasi alat dia....kelenger lah kau.
Text book boleh bilang bahwa kalau out of air, pake kode
khusus....kalo sudah kepepet, ambil itu octopus jangan
pake basa-basi.
Satu lagi adalah pelajari BCD inflator mechanism buddy
anda.
Cuma ada 3 macam konfigurasi yang tidak umum :
01. BCD Inflator yang gabung sama Octopus, kayak
Scubapro Air2 dan sejenisnya dari merek lain kayak Sea
Quest atau US Diver. Ini masih gampang di jambret, cuma
selang udara nya pendek dan sebenarnya owner yang HARUS
pakai ini Air2 dan buddy pakai primary nya. Yah peluk
mesrah lah sang donatur udara, bisa kok, atau switch
saat sudah tenang.
02. Mares atau Dacor HUB.
Nah ini yang repot. Kalau teman saya yang punya tipe HUB
ini, Octopus nya masuk ke kantong BCD. Tombol
inflator/deflator juga di kiri bawah banget, bukan pada
tempat biasa dan harus di pelajari cara operasi nya
sebab tidak seperti inflator biasa. Kalo Buddy anda
pakai HUB, yah siap siap tunggu lama untuk dapat
Octopus. Buddy breathing dulu lah. Jika anda yang pakai
HUB dan primary 2nd stage anda gagal, sering-sering
latihan lah ambil itu Octopus di kantong BCD by feel and
touch sebab mata kita nyaris tidak bisa lihat jelas
kantong BCD sendiri, apalagi kalo ada zipper nya..cari
dulu tuh gagangnya. Ini design sangat streamline
sampe-sampe kesempatan untuk bantuin orang dan bantu
diri sendiri juga jadi ikut di "streamline"
kan......gelo Italiano.
03. Buddy kagak beli Octopus...nah luh !! Jewer itu
buddy, ini nama nya egois.
Ini semua adalah kemungkinan trouble ber buddy atau ber
solo di bawah air nya. Tidak ada jawaban yang sempurna,
semua tergantung pada anda. Kalau saya pribadi, turun
rame-rame, dibawah air saya wara wiri selalu ber solo
ria dan ini emang sudah SOP dari 1991 atau at least
2,500 dive. Cuma saja sekarang semakin hati hati, tidak
mau terlalu dalam, tidak mau mempet sisah udara, kalo
bisa tidak mau terlalu ngos ngos san, tidak mau deco
kecuali kepepet banget dan jangan tantang alam. Hindari
lah pesta kuaci...ini moto yang cukup ampuh.
Yang ideal sih ber buddy sama yang lebih berpengalaman.
Tetapi jangan sekali-kali simpan suatu kepercayaan
bahwa, ada si senior John Doe sebagai buddy ku, pasti
aman dan terjadi lah terlalu mengandalkan John Doe.
Akhirnnya jadi kebiasaan buddy dependent. Ber buddy sama
buddy dependent 2 hal yang berbeda. Ber buddy adalah
saling tolong, buddy dependent adalah mau nya di tolong
karena merasa lebih helpless.... .wele2 kapan maju nya
kalo gini ??
Jika boat diving dan saat di permukaan, sama saja. Nasib
anda tetap di tangan kapal, mau buddy nya 10 orang kek.
Kalo kapal mogok saat mau jemput diver hanyut...yah
berdoa saja lah.
Maka sekali lagi saya ulangi, jangan terlalu terpaku
sama underwater diving nya saja, perhatikan semua
supporting equipment yang diperlukan untuk trip diving
tersebut. Contoh, mesin kapal udah mogok mogok melulu,
baiknya batalkan diving daripada nanti hanyut
berpuluh-puluh jam kalo diver pas di air. Cuaca buruk
tapi sayang batalkan trip karena sudah bayar
kapal....jangan, not worth it deh.