Corona Diving Club Indonesia
Corona Diving Club Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 


 

a 13 Minutes Dive
(Gili Biaha-Bali)
by : hananta tedjapawitra



Gili Biaha, pulau kecil didekat Candidasa, Bali. Dikelilingi dinding karang hampir tegak, bagian atasnya seperti memakai “topi” berupa hamparan rumput hijau. Dilihat dari udara terlihat berbentuk kacang mede, sedikit melengkung kedalam diarah timur. Rabu siang 10 Juni 2009 setelah perjalanan yang memabokan dari Tulamben, kapal Sea Safari berlabuh didekat pulau. Rupanya inilah tujuan penyelaman kami berikutnya.


Gili Tepekong. Dilatar belakang tampak dikejauhan gili Biaha.
(gili = pulau kecil)

Akibat pelayaran berat malam sebelumnya, tidak semua ikut menyelam. 2 grup akhirnya digabung jadi satu, termasuk penulis. 2 DM termasuk Chief DM ada di grup ini. Kami turun didekat tanjung di selatan pulau, dengan maksud menjelajah ke utara menyusuri sisi pulau yang melengkung kedalam untuk melihat gua bawah air yang ada di pulau ini. Sekumpulan hiu karang yang biasanya “istirahat” digua jadi daya tarik utama.


Saat penyelaman dimulai di menit-menit pertama.
Arah penyelaman masih ke selatan.

Permulaan menyelam arah kami sudah salah, bukannya ke utara tapi ke selatan. Bukan maunya penyelam tetapi karena mula-mula arus memang kearah ini. Aba-aba dari DM membuat penyelam berbalik kearah utara. Kedalaman masih 12 m an, ketika penyelam dari luar (ya ada 1 tamu bukan dari CDC dikapal) terlihat turun terus sambil memegang kamera. Peringatan dari Chief DM tidak terlihat olehnya sehingga akhirnya dikejar dan disuruh naik agar menjelajah tidak terlalu dalam. Dinding karang yang berupa wall dengan karang warna warni mulai menarik untuk difoto. Arus mulai mengalir kearah yang diinginkan, ke utara. Kami mulai menikmati penyelaman ini, jarak pandang ok, air nyaman tidak dingin dan arus membuat kami tidak perlu keluar banyak tenaga. Terlihat pula yang sedang mengendarai DPV nya begitu menikmati tarikan dari skuter air ini.
 


Wall pulau Biaha yang dipenuhi karang warna warni.
Di foto sesaat sebelum penyelam masuk ke area down current.

Baru dapat beberapa jepretan kamera ketika situasi tiba-tiba berubah drastis. Mulanya curiga kenapa tidak banyak gelembung yang terlihat naik dari rekan lain. Berikutnya “tarikan” kuat kebawah yang dirasakan. Sempat mengambil foto wide angle dari dinding karang, reflex tangan kanan yang bebas kamera meraih dinding, yang teraih ternyata sponge yang tidak terlalu keras. Akibatnya sponge gompal sebagian (maaf untuk para pencinta lingkungan) dan badan terus tertarik kebawah. Sampai ke 23 m. Biasanya jika ketemu arus down current macam ini masih sanggup dilawan dengan memotong arus atau naik keatas dengan bantuan fins. Kali ini down current nya mirip iklan mesin pompa air…….sedotannya kuat…..semburannya……Raihan berikutnya beruntung mendapatkan tumpuan yang keras/ batu karang. Setelah pikiran lebih jernih dan mulai terbiasa pandangan dialihkan ke rekan-rekan lain. Pertama tentunya ex teman dekat yang terlihat tidak berpegang pada karang tapi bertahan dengan kayuhan kaki dan skuter DPV nya. Chief DM terlihat dikedalaman memegang dan menolong satu penyelam. Jauh dibawah, mungkin lebih dari 30 m seorang penyelam berpegang pada karang……..lalu terlepas….dan terus turun……
 

Diarah penyelam datang rupanya kekuatan arus melemah. Sambil mengayuh kuat dan mengisi udara ke BC, kami mengikuti arah chief DM yang karena menolong jadi menjauh dari karang. Semua bergegas naik keatas, menyelamatkan diri masing-masing. Safety stop dilakukan ditengah-tengah air dengan perasaan was-was siapa tahu down current datang lagi. 5 menit terasa begitu lama. Sampai dipermukaan semua ingin buru-buru naik ke kapal. Setelah dicek dan dihitung……..ketahuan 1 penyelam belum terlihat naik. Rasa kuatir dan panik mulai terasa. Kami buru-buru dipulangkan ke kapal induk (Sea Safari) dan kedua DM segera kembali kelokasi lagi untuk mencari satu penyelam tertinggal.

Dikapal induk, saat pikiran dan kondisi badan mulai tenang…..terasa ada rasa tidak nyaman di bagian atas perut dan paru-paru kiri bawah, lebih-lebih saat menarik napas. Mungkin karena wetsuit belum dilepas? Pikiran macam-macam muncul…..apa dekompresi? Tapi waktu selam kan cuma 13 menit termasuk safety stop? Dan biasanya dekompresi terasa setelah 1 jam atau lebih. Emboli udara? Ini mungkin…..segera setelah naik atau tidak lama setelah naik…..hanya sebelah yang sakit…..ini cocok dengan teori tentang emboli. Dahak dan buang ludah beberapa kali dilakukan…..untuk mengecek ada darah tidak. Untunglah setelah beberapa saat gejala menghilang. Sudah terbayang…….isap oksigen murni yang tersedia di kapal…..chamber terdekat ada di RS Sanglah, Denpasar……atau ke Surabaya. Kalau ini terjadi berarti trip kemungkinan bisa dibatalkan dan berakhir disini……dan teman-teman pasti kecewa. Syukurlah sorenya tetap bisa berpartisipasi saat penyelaman di gili Tepekong dan penyelaman malam di dekat Blue Lagoon.

Dari rombongan pertama yang pulang…..tak terlihat penyelam hilang yang tadi tertarik arus. Bayangan terburuk muncul tak diundang. Kalau betul tak kembali berarti akan ada pencarian…..melibatk an tim SAR dan semua pihak. Akibatnya sama…..trip juga harus berakhir. Di kapal berikutnya yang kembali…..antara percaya dan tidak……untunglah penyelam yang hilang ada diantara mereka…..sehat walafiat kelihatannya. Hilang sudah beban berat yang seolah menimpa kami dan rekan-rekan yang sempat……tersedot arus.

Omong punya omong di meja makan, rupanya rekan yang satu ini terbawa arus sampai ke 52 m an. Sampai divecomp nya pun “ngambek” dan hanya bisa dipakai untuk mengukur kedalaman di penyelaman besoknya. Dikedalaman ini efek narcosis bisa jadi berbahaya dan lebih dalam lagi efek keracunan oksigen bisa fatal.

Penyelaman menegangkan diatas hanya berlangsung selama 13 menit! Itupun sudah termasuk waktu safety stop. Malamnya saat melihat profil penyelaman di layar laptop, terlihat di penyelaman singkat itu terjadi 4 kali pelanggaran/ tidak sesuai keinginan divecomp seperti naik terlalu cepat dan dilewatinya ceiling stop/ batas safety stop.

Terngiang kembali saat dive briefing diberikan. “Tidak semua trip liveabroad atau divecenter memasukkan acara dive di gili Biaha dalam program divingnya”. Selain gili Biaha didekat lokasi tersebut masih ada lagi gili Tepekong, gili Mimpang dan satu lagi agak jauh gili Selang. Ada lokasi dive nya yang mendapat julukan “the toilet”…….karena arusnya yang selain berputar, juga menarik kebawah.



CDC # 011


Note: Bagi yang tertarik sampai 52 m an, semua rekan-rekan tentu ingin tahu bagaimana akhirnya bisa lepas dari downcurrent. Semoga bisa menceritakannya di milis ini dan berguna untuk rekan yang lain.

Pernah ada yang tanya apakah diving kegiatan yang berbahaya, solo diving boleh tidak dan sebagainya. Dari pengalaman diatas semoga masing-masing bisa menarik kesimpulan sendiri. Terkena arus kebawah dan menyelamatkan diri darinya……sudah mirip solo diving……Menolong diri sendiri saja sulit. Menolong orang lain dalam situasi serupa? Rasanya lebih sulit lagi.

Diver yang baik memang tidak boleh selalu berpikiran keselamatannya tergantung pada buddy

 

 

<read about kenangan UK>