|
Gili Biaha, pulau kecil didekat Candidasa, Bali. Dikelilingi
dinding karang hampir tegak, bagian atasnya seperti memakai
“topi” berupa hamparan rumput hijau. Dilihat dari udara
terlihat berbentuk kacang mede, sedikit melengkung kedalam
diarah timur. Rabu siang 10 Juni 2009 setelah perjalanan
yang memabokan dari Tulamben, kapal Sea Safari berlabuh
didekat pulau. Rupanya inilah tujuan penyelaman kami
berikutnya.

Gili Tepekong. Dilatar
belakang tampak dikejauhan gili Biaha.
(gili = pulau kecil)
Akibat pelayaran berat malam
sebelumnya, tidak semua ikut menyelam. 2 grup akhirnya
digabung jadi satu, termasuk penulis. 2 DM termasuk Chief DM
ada di grup ini. Kami turun didekat tanjung di selatan
pulau, dengan maksud menjelajah ke utara menyusuri sisi
pulau yang melengkung kedalam untuk melihat gua bawah air
yang ada di pulau ini. Sekumpulan hiu karang yang biasanya
“istirahat” digua jadi daya tarik utama.

Saat penyelaman dimulai di
menit-menit pertama.
Arah penyelaman masih ke selatan.
Permulaan menyelam arah kami
sudah salah, bukannya ke utara tapi ke selatan. Bukan maunya
penyelam tetapi karena mula-mula arus memang kearah ini.
Aba-aba dari DM membuat penyelam berbalik kearah utara.
Kedalaman masih 12 m an, ketika penyelam dari luar (ya ada 1
tamu bukan dari CDC dikapal) terlihat turun terus sambil
memegang kamera. Peringatan dari Chief DM tidak terlihat
olehnya sehingga akhirnya dikejar dan disuruh naik agar
menjelajah tidak terlalu dalam. Dinding karang yang berupa
wall dengan karang warna warni mulai menarik untuk difoto.
Arus mulai mengalir kearah yang diinginkan, ke utara. Kami
mulai menikmati penyelaman ini, jarak pandang ok, air nyaman
tidak dingin dan arus membuat kami tidak perlu keluar banyak
tenaga. Terlihat pula yang sedang mengendarai DPV nya begitu
menikmati tarikan dari skuter air ini.

Wall pulau Biaha yang dipenuhi
karang warna warni.
Di foto sesaat sebelum penyelam masuk ke area down current.
Baru dapat beberapa jepretan
kamera ketika situasi tiba-tiba berubah drastis. Mulanya
curiga kenapa tidak banyak gelembung yang terlihat naik dari
rekan lain. Berikutnya “tarikan” kuat kebawah yang
dirasakan. Sempat mengambil foto wide angle dari dinding
karang, reflex tangan kanan yang bebas kamera meraih
dinding, yang teraih ternyata sponge yang tidak terlalu
keras. Akibatnya sponge gompal sebagian (maaf untuk para
pencinta lingkungan) dan badan terus tertarik kebawah.
Sampai ke 23 m. Biasanya jika ketemu arus down current macam
ini masih sanggup dilawan dengan memotong arus atau naik
keatas dengan bantuan fins. Kali ini down current nya mirip
iklan mesin pompa air…….sedotannya
kuat…..semburannya……Raihan berikutnya beruntung mendapatkan
tumpuan yang keras/ batu karang. Setelah pikiran lebih
jernih dan mulai terbiasa pandangan dialihkan ke rekan-rekan
lain. Pertama tentunya ex teman dekat yang terlihat tidak
berpegang pada karang tapi bertahan dengan kayuhan kaki dan
skuter DPV nya. Chief DM terlihat dikedalaman memegang dan
menolong satu penyelam. Jauh dibawah, mungkin lebih dari 30
m seorang penyelam berpegang pada karang……..lalu
terlepas….dan terus turun……
Diarah penyelam datang rupanya
kekuatan arus melemah. Sambil mengayuh kuat dan mengisi
udara ke BC, kami mengikuti arah chief DM yang karena
menolong jadi menjauh dari karang. Semua bergegas naik
keatas, menyelamatkan diri masing-masing. Safety stop
dilakukan ditengah-tengah air dengan perasaan was-was siapa
tahu down current datang lagi. 5 menit terasa begitu lama.
Sampai dipermukaan semua ingin buru-buru naik ke kapal.
Setelah dicek dan dihitung……..ketahuan 1 penyelam belum
terlihat naik. Rasa kuatir dan panik mulai terasa. Kami
buru-buru dipulangkan ke kapal induk (Sea Safari) dan kedua
DM segera kembali kelokasi lagi untuk mencari satu penyelam
tertinggal.
Dikapal induk, saat pikiran dan kondisi badan mulai
tenang…..terasa ada rasa tidak nyaman di bagian atas perut
dan paru-paru kiri bawah, lebih-lebih saat menarik napas.
Mungkin karena wetsuit belum dilepas? Pikiran macam-macam
muncul…..apa dekompresi? Tapi waktu selam kan cuma 13 menit
termasuk safety stop? Dan biasanya dekompresi terasa setelah
1 jam atau lebih. Emboli udara? Ini mungkin…..segera setelah
naik atau tidak lama setelah naik…..hanya sebelah yang
sakit…..ini cocok dengan teori tentang emboli. Dahak dan
buang ludah beberapa kali dilakukan…..untuk mengecek ada
darah tidak. Untunglah setelah beberapa saat gejala
menghilang. Sudah terbayang…….isap oksigen murni yang
tersedia di kapal…..chamber terdekat ada di RS Sanglah,
Denpasar……atau ke Surabaya. Kalau ini terjadi berarti trip
kemungkinan bisa dibatalkan dan berakhir disini……dan
teman-teman pasti kecewa. Syukurlah sorenya tetap bisa
berpartisipasi saat penyelaman di gili Tepekong dan
penyelaman malam di dekat Blue Lagoon.
Dari rombongan pertama yang pulang…..tak terlihat penyelam
hilang yang tadi tertarik arus. Bayangan terburuk muncul tak
diundang. Kalau betul tak kembali berarti akan ada
pencarian…..melibatk an tim SAR dan semua pihak. Akibatnya
sama…..trip juga harus berakhir. Di kapal berikutnya yang
kembali…..antara percaya dan tidak……untunglah penyelam yang
hilang ada diantara mereka…..sehat walafiat kelihatannya.
Hilang sudah beban berat yang seolah menimpa kami dan
rekan-rekan yang sempat……tersedot arus.
Omong punya omong di meja makan, rupanya rekan yang satu ini
terbawa arus sampai ke 52 m an. Sampai divecomp nya pun
“ngambek” dan hanya bisa dipakai untuk mengukur kedalaman di
penyelaman besoknya. Dikedalaman ini efek narcosis bisa jadi
berbahaya dan lebih dalam lagi efek keracunan oksigen bisa
fatal.
Penyelaman menegangkan diatas hanya berlangsung selama 13
menit! Itupun sudah termasuk waktu safety stop. Malamnya
saat melihat profil penyelaman di layar laptop, terlihat di
penyelaman singkat itu terjadi 4 kali pelanggaran/ tidak
sesuai keinginan divecomp seperti naik terlalu cepat dan
dilewatinya ceiling stop/ batas safety stop.
Terngiang kembali saat dive briefing diberikan. “Tidak semua
trip liveabroad atau divecenter memasukkan acara dive di
gili Biaha dalam program divingnya”. Selain gili Biaha
didekat lokasi tersebut masih ada lagi gili Tepekong, gili
Mimpang dan satu lagi agak jauh gili Selang. Ada lokasi dive
nya yang mendapat julukan “the toilet”…….karena arusnya yang
selain berputar, juga menarik kebawah.
CDC # 011
Note: Bagi yang tertarik sampai 52 m an, semua rekan-rekan
tentu ingin tahu bagaimana akhirnya bisa lepas dari
downcurrent. Semoga bisa menceritakannya di milis ini dan
berguna untuk rekan yang lain.
Pernah ada yang tanya apakah diving kegiatan yang berbahaya,
solo diving boleh tidak dan sebagainya. Dari pengalaman
diatas semoga masing-masing bisa menarik kesimpulan sendiri.
Terkena arus kebawah dan menyelamatkan diri darinya……sudah
mirip solo diving……Menolong diri sendiri saja sulit.
Menolong orang lain dalam situasi serupa? Rasanya lebih
sulit lagi.
Diver yang baik memang tidak boleh selalu berpikiran
keselamatannya tergantung pada buddy
|