Corona Diving Club Indonesia
Corona Diving Club Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 


 

POSO Wreck (Kepulauan 1000)
by : hananta tedjapawitra



Bagi para diver, menyelam di kapal karam adalah kesempatan yang selalu ditunggu dan diimpi-impikan (buat yang belum mengalami). Begitu populernya sehingga pernah beberapa tahun lalu kursus Dive Specialty yang paling diminati adalah Wreck Diver Specialty.

Kep Seribu juga menyimpan banyak kapal tenggelam. Dari yang masih dekat perairan Jakarta sampai terus ke utara. Kapal tenggelam tidak memilih lokasi, jadi tidak semua ideal untuk sport diver……yaitu tidak terlalu dalam, gampang dicari, di perairan teduh, jarak pandang OK dan cukup lama sudah tenggelam. Salah satunya yang layak dikunjungi adalah kapal karam Poso.

Tenggelam di perairan dekat gosong Congkak, dekat dengan pulau Panggang dan Pramuka. Tahun 80 an kapal ini sudah terbaring disana, di kedalaman 28 sampai 35 m. Ada yang mengatakan Poso adalah sejenis kapal tunda/ tugboat. Yang pasti kapal ini terbuat dari besi. Kapal ini boleh dibilang tenggelam dengan posisi baik……duduk manis kata orang. Jadi tidak terbaring disatu sisi dan terlalu miring (tahukah anda jika menyelam di kapal yang terbaring miring dan berada didalamnya,…..anda akan terkena efek rumah miring….seperti di Dufan sana).

Pebruari lalu kami gagal menemui kapal ini, karena tali penghubung antara batu karang terakhir dan bagian belakang kapal putus. Poso memang terbaring di pasir, agak jauh dari karang, jadi kalau tidak tahu persis arah kompas berapa derajat atau salah membaca kompas kapal akan sulit ditemui. April lalu saat kesana lagi, kebetulan pagi itu ketemu kapal dari salah satu dive center yang sedang menunggu tamu selesai dive. Kami diberitahu petunjuk. Dari pedoman batu karang yang ada di tempat dangkal (batu mandi istilah orang Lampung). Dari batu ini kami turun ke 18 -20 m arah 150 derajat. Ketemu batu karang terakhir dan dari batu ini orang memasang tali ke bagian belakang kapal. Arah tetap 150 derajat dan setelah mengayuh fins kira-kira 50 m terlihat bayangan yang dicari Poso Wreck. Kedalaman 28,5 m.

Setelah sambutan manis dari belasan ikan bebel (Spadefish) yang seolah menyongsong penyelam, bagian buritan kapal mulai jelas terlihat. Bilah kemudi (rudder blade) masih utuh ditempatnya, dekat lunas belakang bagian bawah. Sebelah kanan dinding buritan….penuh berbagai macam ikan yang sedang “bermain”. Puluhan ikan kaci-kaci (semacam kakap yang totol totol kulitnya) ukuran 40 cm, ratusan ekor kuning, dua pasang angelfish (jenis ini selalu hidup berduaan) dan ikan kecil lainnya. Banyaknya ikan ini cukup “mengejutkan”. Rupanya kapal ini betul-betul sudah jadi karang buatan. Membentuk satu ekosistem tersendiri.

Perjalanan dilanjutkan kearah depan kapal, menyusuri sisi kanan kapal. Dinding kapal terlihat ditumbuhi macam-macam “mahluk laut” seperti kipas laut, hydroid, tali arus, leli laut dan lainnya. Jarak pandang sedang cukup bagus untuk ukuran pulau Seribu…..10 m lebih. Bagian depan, haluan kapal ini berada ditempat terdalam 35 m an. Terlihat bagian yang lebih tinggi sebelum ujung haluan, ini mungkin ruang kemudi dan kamar-kamar awak kapal. Sepertinya ada 3 tingkat lubang jendela dibagian ini. Dari ujung haluan kami naik menyusur bagian kiri kapal kearah buritan lagi. Dive com menunjuk sisa 6 menit untuk waktu NDL. Tekanan tabung sudah menunjuk dibawah 100 bar.

Menyusur bagian atas badan kapal yang juga banyak ditumbuhi karang, memberi sensasi tersendiri. Ada perasaan lain “bisa melayang” menyusur bagian kapal yang jika tidak tenggelam tentu tidak bisa dilakukan. Sampai diatas buritan, saatnya kembali ketepi karang. Dengan arahan tali, kembali menyusur dasar pasir mencapai karang terakhir dan naik perlahan. Total 40 menit di kapal Poso, rasanya terlalu singkat. Kami akan kesana lagi…..pasti.

Pulau Seribu yang cuacanya baik, dalam arti tidak berangin, berombak dan visibility bagus tidak sepanjang tahun. Yang paling bagus adalah musim pancaroba…..antara Maret sampai Mei. Disaat inilah penyelaman di kapal karam paling ideal delakukan. Musim kedua, antara September sampai Nopember boleh dicoba…..tapi katanya visibility tidak sebagus Maret-Mei. Jika mampir di Poso Wreck……please, no spearfisihing.



CDC # 011.



Foto 1. Dive master Thomas dari P Pramuka sedang menyusur tali pengarah yang menghubungkan karang terakhir dengan buritan Poso Wreck.


Foto 2. Giri, Thomas dan Luki (ini sepupunya pygmiie) sedang menyusur sisi kiri lambung kapal.

 

 

Foto 3. Bilah kemudi dan bagian bawah lunas belakang sudah dipenuhi karang warna warni.


Foto 4. Ikan hias seperti Lion fish juga betah tinggal di Poso Wreck. Terlihat tali arus, hydroid, kerang gergaji dll.


Foto 5. Jangan lupa mancing bandeng jika ke Pramuka. Luki dengan hasil pancingannya, bandeng ukuran 2 kg. Tarikannya? Mantap……….!

 

Bagi kawan-kawan Kalau ada waktu kapal dibawah ini boleh dicoba. Dari pramuka tidak jauh, 30 menitan naik kapal kayu. Kalau cari sendiri, kawatir bisa tidak ketemu. Bisa cari bantuan sama guide dari dive center di Pramuka. Atau coba cari sdr. Giri dari Dinas Perikanan. Atau sdr Hendrianto dari Kepolisian Kehutanan (keduanya instruktur POSSI) dan sdr. Kahar. Selamat menyelam !!

Nomor HP Giri : 0811977760
Nomor Hp Hendro : 081585333885

 

<read about kenangan UK>

<read about papatheo wreck>